Pages

Senin, 28 Mei 2012

Rendang Ayam



Sekitar jam 9 pagi aku sudah sampai di Pasar Kaget Piladang, pasar tradisional kagetan di sekitar Payakumbuh. Kalau kita dari arah Bukittinggi, pasar ini ada disebuah lapangan sebelah kiri jalan, sebelum kita masuk ke kota Payakumbuh. Pasar ini hanya buka pada hari Jum’at saja.
Belum sempat sarapan. Celingak celinguk mencari warung nasi yang bisa disinggahi. Rasa lapar membuatku menyerah dan memutuskan untuk bertanya kepada seorang uni. Ia kemudian menunjuk ke arah salah satu warung nasi kapau di ujung lapangan. Namanya nasi kapau Uni Des. Dari luar, rumah makan itu tampak cukup ramai pengunjung. Berbagai hidangan tampak terjejer rapih. Dendeng balado dengan potongan daging yang lebar hampir menutupi piring, tambusu atau usus sapi yang sudah diisi dengan telur kocok berbumbu begitu menggoda mata.
Semua hidangan yang tertata di depanku benar-benar membuat air liurku menetes. Di balik makanan-makanan itu Uni Des menuangkan nasi di atas daun pisang dengan porsi yang menggunung. nasi yang mengepul itu siap disiram kuah dan lauk yang menggiurkan. Betul-betul super ekstra  large porsi nasi kapau ini. Dibantu oleh satu orang uni lain aku mulai memperhatikan bagaimana sigapnya mereka mereka. Dimulai dari mengambil daun, menyendok nasi dan menuangkan lauk di atasnya.
Uni Des mulai mengambil piring dan mengisinya dengan nasi putih untukku. Sementara aku masih memilih, ia sudah menambahkan lauk wajib dari sebuah nasi kapau. Sedikit potongan tambusu, gulai kapau yaitu gulai dengan sayur kol, cubadak, dan rebung. Tidak ada rendang daging disini. Yang ada hanya rendang ayam. Dari beberapa rumah makan nasi kapau memang jarang terlihat rendang daging. Mereka menghidangkan rendang ayam sebagai pilihan.
Potongan daging ayam yang tidak terlalu besar, tidak tertutup kulit seperti potongan ayam goreng di warteg-warteg. Ayam potong disini memang langsung dikupas kulitnya oleh para penjual ayam. Jadi bersih. Balutan bumbu rendangnya cukup banyak membalut dan meresap kedalam ayam. Diletakkan dalam piring kaleng besar. Sungguh surprised bahwa rendang ayam ini kering tidak basah oleh minyak. Mungkin karena akan dipadukan dengan lauk lain yang cukup banyak kuah dan minyak, maka rendang ayam ini bisa dibilang kering.
Ada potongan singkong yang dipotong kecil berukuran dadu sebagai penambah kenikmatan.  Dari Uni Des aku tahu kalau memang rendang ayam ini ditiriskan dulu sebelum dihidangkan. Proses pemasakan yang tidak mudah kadang memang membuat rendang ayam ini bisa hancur saat diaduk. Bisa-bisa dibilang mutilasi tuh, soalnya saat matang bisa saja ketemu tulang yang dagingnya ada entah dimana….
Tapi secara keseluruhan rendang ayam di Nasi Kapau uni Des ini memang dibuat dengan rasa cinta, seperti kecintaannya menyajikan makanan di lapaunya dengan porsi yang berlimpah..
Kenyang? Belum tentu, karena ibu tua yang duduk disebelahku, dengan yakin berkata “tambuah ciek”

Sumber